Monday, May 28, 2012

Kepustakawanan Islam



Istilah kepustakawanan merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggeris, iaitu librarianship yang berasal dari kata librarianLibrarian  dalam bahasa Melayu diterjemahkan dengan pustakawan, iaitu seseorang yang bekerja di perpustakaan atau petugas perpustakaan yang mendapat pendidikan ilmu perpustakaan (Neufeldt, 1996). Dengan merujuk pada pengertian ini sesungguhnya kepustakawan merujuk pada tugas-tugas atau kegiatan pustakawan dalam kaitannya dengan perpustakaan, atau kegiatan dalam upaya-upaya pelaksanaan tugas-tugas dan pengembangan perpustakaan.

Menurut Gates (1968), dalam ilmu perpustakaan, istilah kepustakawanan tidak hanya menunjukkan pada pengertian profesion pustakawan, akan tetapi menunjukkan pada pengertian kondisi (condition), pejabat (office), dan profesion (profession). Hal ini bererti bahwa istilah kepustakawanan mengandung pengertian hal-hal yang berkaitan dengan kondisi atau keadaan perpustakaan, perpustakaan sebagai unit kerja atau Pejabat, dan tugas-tugas (duties) perpustakaan di mana pustakawan adalah orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas perpustakaan. Sulistyo-Basuki (1993) mentafsirkan kepustakawanan dengan penerapan pengetahuan atau ilmu perpustakaan di dalam kegiatan perpustakaan, dan perluasaan jasa perpustakaan. Kepustakawanan menyangkut segala aspek yang berkenaan perpustakaan, mulai dari kegiatan pengadaan, pengolahan, temu balik, hingga penyebaran informasi untuk pembaca serta penerapan pengetahuan (ilmu perpustakaan) dalam berbagai kegiatan tersebut. Ilmu perpustakaan sebagaimana disiplin ilmu lainnya diciptakan tidaklah semata-mata ditujukan untuk keilmuan belaka, akan tetapi juga harus dapat diaplikasikan untuk kemanfaatan hidup manusia.Dengan demikian istilah kepustakawanan mencakup pengertian yang luas dalam bidang ilmu perpustakaan baik teori maupun praktikal. Kepustakawanan meliputi sejarah perpustakaan, lembaga perpustakaan dan tugas-tugasnya, profesi pustakawan, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan dunia perpustakaan. Kemudian, apakah kepustakawanan Islam itu, dan adakah konsep kepustakawanan dalam Islam itu?

Sebagai suatu konsep, istilah kepustakawanan Islam (Islamic librarianshipsetidaknya dapat menunjukkan dua aspek utama. Pertama bahwa kepustakawanan Islam menunjukkan aspek-aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan teori atau ilmu perpustakaan. Sebagaimana keilmuan lainnya, seperti sains, sosiologi, ekonomi, politik, dan hukum, maka perpustakaan juga merupakan bagian dari keilmuan yang juga memiliki landasan teologis dalam ajaran Islam.  Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam bukanlah kitab atau buku sosiologi, bukan buku ekonomi, dan juga bukan buku ilmu lainnya, termasuk juga bukan buku tentang perpustakaan, akan tetapi  dalam Al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang berkaitan dengan beragam disiplin ilmu, termasuk ilmu perpustakaan. Al-Qur’an merupakan sumber dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Bagi seorang sosiolog, al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dan landasan dalam pengembangan keilmuan di bidang sosial. Bagi ahli ekonomi maupun politik, al-Qur’an merupakan kitab yang telah berisi dasar-dasar tentang ekonomi dan politik. Demikian juga bagi ahli-ahli di bidang keilmuan lainnya termasuk di bidang perpustakaan. Al-Qur’an  telah memberikan dasar-dasar bagi keilmuan perpustakaan.

Selanjutnya, atau kedua, istilah kepustakawan Islam menunjukkan pada tradisi atau praktikal di bidang ilmu perpustakaan yang berlangsung di dunia Islam. Dalam kerangka ini, maka kepustakawanan Islam berarti sejarah tentang perpustakaan di dunia Islam, baik yang menyangkut lembaga perpustakaan, tugas dan fungsi perpustakaan,  profesi pustakawan, dan hal-hal lainnya menyangkut penyelenggaraan perpustakaan. Meskipun demikian, di dunia Islam, tradisi kepustakawanan Islam tidaklah terlepas dari ajaran-ajaran Islam sebagai landasan keilmuan. Oleh karena itu, kepustakawanan Islam merupakan sesuatu yang khas yang tidak terdapat dalam tradisi kepustakawanan pada agama lain. Hal ini karena tradisi keilmuan pada masyarakat di luar Islam merupakan sesuatu yang terpisah dari ajaran agama (sekular), dan oleh karenanya sering terjadi pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, tradisi ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat di luar Islam kurang atau tidak memiliki landasan yang kuat dalam ajaran agama. 

Sebagai suatu tradisi, kepustakawan Islam merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam atau sejarah umat Islam itu sendiri. Sejak awal kelahirannya, Islam telah mengenalkan tradisi kepustakawanan, dan bahkan Islam juga telah meletakkan pondasi bagi tumbuh dan berkembangnya tradisi kepustakawanan ini. Hal ini terbukti dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan  di kalangan umat Islam sebagai bagian dari suatu peradaban yang dibangun. 

Berkaitan dengan hal ini, menarik untuk dicermati lebih dalam apa yang dikemukakan oleh seorang ahli sejarah sosial dan intelektual yang bernama Goerge Makdisi. Menurut George Makdisi (1981, 1990), dalam sejarah kepustakawanan Islam terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu perpustakaan. Berdasarkan penelitiannya, nama-nama yang digunakan untuk menyebutkan suatu perpustakaan adalah kata-kata seperti dar (house), bait (room), dan khizanah (closet) yang dikombinasikan dengan kata-kata seperti ‘ilm (knowledge), hikmah (wisdom), dan kutub (books). Dari penggabungan kedua kata tersebut kemudian terbentuk istilah-istilah seperti bait al-hikmah, khizanah al-hikmah, dar al-hikmah, bait al-ilm, khizanah al-ilm, dar al-ilm, bait al-kutub, khizanah al-kutub, dan dar al-kutub. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terdapat satu perpustakaan yang sangat tersohor yang disebut bait al-hikmah, atau ada juga yang menyebutnya khizanah al-hikmah yang merupakan perpustakaan terbesar pada masanya yang awal pendiriannya dilakukan oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan kemudian dikembangkan oleh khalifah al-Ma’mun (Ahmad Amin, 1984). Di Kairo, Mesir, pada masa Dinasti Fatimiyah berdiri Perpustakaan Dar al-Hikmah atauDar al-Ilm oleh khalifah al-Hakim Ibn Amr Allah tahun 395 H. (Syalabi, 1954). Di Naisabur terdapat perpustakaan dengan nama Dar al-Ilm atau  Khizanah al-Kutub yang didirikan oleh Abu Naser Sabur Ibn al-Dasyir (Al-Baghdadi, 1996). Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang berfungsi sebagai layanan tempat baca, akademi, dan tempat pertemuan untuk diskusi.

Dengan demikian, sesungguhnya tradisi kepustakawanan Islam memiliki karakteristik yang unik, dan bahkan mendapatkan landasan yang kuat dalam sejarah kepustakawanan Islam, baik landasan historis maupun landasan teologis. Dasar-dasar yang melandasi tentang konsep kepustakawanan Islam akan diuraikan pada tulisan berikutnya.

Artikel Agus Rifai,seorang Pustakawan di UIN Syarif ,Hidayatullah,Jakarta,Indonesia.


Thursday, May 10, 2012

Kursus Di Putrajaya




Saya berpeluang mengikuti "Program Perdana Discourse series 14:Enhancing Accountability & Intergrity in Public Sector-Are We Doing Enough" anjuran Yayasan Kepimpinan Perdana,UiTM serta ditaja oleh PROTON pada 9 Mei 2012.

Admission is Free

keterangan ringkas mengenai program ini:


This is the fourteenth of the Perdana Discourse Series, following a successful debut in 2004 on “National Unity”. Jointly organized by Perdana Leadership Foundation and the Institute of Knowledge Advancement of UiTM and sponsored by Proton, the Perdana Discourse Series is a semi-structured communication platform where a prominent presenter will speak to selected clusters of audience on a pre-determined topic, addressing its definition and tracing issues like policies, strategies and possible models used during the tenure of the past Prime Ministers. Discussions and issues arising from the discourse will be documented and mapped. The keynote address will be followed by a moderated discussion session by experts from related fields. A monograph will be published following each programme in the series.


Objectives
  1. To offer a platform for research on thoughts of the past four Malaysian prime ministers
  2. To allow knowledge sharing on the leadership style of the country’s statesmen
  3. To map the continuity of thoughts of past leaders

Ucaptama (Keynote Speech) adalah disampaikan oleh Yang Berbahagia Tan Sri Dato' Setia Haji Ambrin Buang (Ketua Audit Negara)

Sessi perbincangan pula melibatkan ahli panel yang terdiri daripada: 
  1. Dato' Seri Azmi Khalid, Head, Public Accounts Committee (PAC)
  2. Datuk Dr. Ir Ahmad Zaidi Ladeen, Chairman, Enrico Sdn Bhd
  3. Datuk Paul Low Seng Kuan, President, Transparency International Malaysia,
  4. Ms Khairiah Mokhtaruddin, Research Project Manager 2, Razak School of Government
Moderator pula ialah Ms.Zuraidah Binti Haji Musib.

Tentatif Program

08.00am: Registration and Refreshments
09.00am: Welcome Address by Tan Sri Dato' Seri Azman Hashim
09.15am: Introductory Remarks by UiTM
09.30am: Keynote Speech by Yang Berbahagia Tan Sri Dato' Setia Haji
Ambrin Buang
10.15am: Question & Answer Session
11.00am: Tea Break
11.15am: Panel Session
12.15pm: Question & Answer Session
13.00pm: Wrap-Up by Moderator
13.15pm: Networking Lunch and End of Programme

Pelbagai isu yang dibangkitkan berkenaan transparency dan accountability dalam pentadbiran kerajaan.Isu yang berkaitan politik juga antara yang termasuk.Namun demikian,ianya tidak menganggu perjalanan program.

Program sebegini sedikit sebanyak membuka pemikiran dan pengetahuan kita tentang apa yang berlaku dan tindakbalas yang perlu diambil untuk mengatasi isu-isu semasa yang sering  terpampang dalam dada akhbar tentang korupsi & ketirisan dalam pengurusan aset kerajaan.

Dewan dipenuhi dengan pelbagai hadirin yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang seperti warga koporat,ahli akademik,pelajar serta wakil daripada badan bukan kerajaan.Dianggarkan seramai 200 orang yang hadir sebab dewan penuh.

Saya mencadangkan agar organisasi yang ada seharusnya mengambil peluang yang ada sebegini kerana selain meningkatkan pengetahuan umum,ianya juga tidak dikenakan bayaran.

Kebetulan juga saya ada berjumpa dengan kawan lama sepengajian di UiTM Machang,Kelantan dahulu.Sesungguhnya majlis ilmu seperti inilah yang sering menemukan kita dengan rakan-rakan lama disamping berkenalan dengan kawan yang baru.Selesai saja program,saya berkesempatan membawa keluarga untuk bersiar-siar di sekitar Putrajaya.























*Gambar:Perpustakaan Yayasan Kepimpinan Perdana


















Friday, May 4, 2012

Novel Pilihan

Saya juga seorang pembaca dan peminat novel.Mungkin dari segi citarasa genre novel saya berlainan daripada peminat novel yang lain.So,saya nak kongsikan senarai novel-novel yang saya telah khatam dan dicadangkan untuk pengunjung blog Qalam Timur ini.

Novel karya penulis thriller nombor 1 Malaysia.Ramlee Awang Murshid



Siri Bagaikan Puteri,Kisah pengembaraan Saifuddin Bin Jalis yang juga dikenali sebagai Laksamana Sunan dalam memerangi kejahatan di tanah melayu.Novel Bagaikan Puteri ini mempunyai 6 siri.


  1. Bagaikan Puteri (BP)
  2. Cinta Sang Ratu  (CSR)
  3. Hijab Sang Pencinta  (HSP)
  4. Cinta Sufi (CS)
  5. Sutera Bidadari (SB)
  6. Sunan Musafir (Dijangkakan berada di pasaran Mei 2012)





Novel trilogi Tombiruo.Kisah Ejim,seorang manusia dari hutan keningau 

  1. Tombiruo
  2. Semangat Hutan
  3. Tombiruo Terakhir.





Novel karya penulis antarabangsa iaitu Irving Karchmar,seorang warga Amerika yang memeluk islam.Novel ini saya perolehi dalam bentuk online atas bantuan seorang rakan.Bertahun juga pencarian.




Sang Raja Jin/Master of The Jinn,sebuah novel berbentuk sufism.Ulasan novel ini boleh dibaca di link ini :http://qyu.blogspot.com/2008/02/sang-raja-jin.html


Penulis bernama Zehan ur Rakhie,menetap di Jerantut,Pahang Darul makmur.Genre Islamik,Seram,Gelap,dunia jenayah.Memang feveret.Karya utama ialah Rahsia Agenda Alam Hitam & Gapura.



  1. Rahsia Agenda Alam Hitam :Kelahiran Mufrad
  2. Rahsia Agenda Alam Hitam II :Vamprha
  3. Rahsia Agenda Alam Hitam III (Masih menanti dan terus menanti)
  4. Gapura

Kesemua novel dia,saya sangat mencadangkan kepada peminat novel genre gelap.Terbaik!






Penulis bernama Mitch Albom



Inilah satu satunya novel bahasa inggeris yang saya betul -betul baca,faham dan hayati.Cerita ringkas dan bahasa inggeris yang senang faham.Anyway,memang sangat menarik kisah dalam novel ni.try jangan tak try.



Novel yang diadaptasikan dari kisah-kisah epik kini menjadi tumpuan saya terutama epik Ramayana.Sehingga kini terdapat 3 novel yang saya beri ranking 5 bintang.

Kembang Kanigara,karya S.M.Zakir.Ini adalah novel epik terbaik yang saya pilih.Dengan lenggok dan penggunaan bahasa klasik yang sangat WOW!Namun untuk dapatkannya adalah sesuattu yang amat susah.Terbitan tahun 1992.


Saya ada buat sket sinopsis dan review pasal novel Kembang Kanigara di:http://qalamtimur.blogspot.com/2011/12/kembang-kanigara.html



Karya Uthaya Sankar.Hanuman:Potret Diri.Boleh dibaca secara online di Freemalaysiatoday setiap Sabtu dan Ahad. (Hanuman:Suara Hati).Sangat mengesankan.Semestinya akan terus membaca.







Dan yang paling ingin dimiliki ialah Novel Juara Yang Tewas karya Dato Aripin Said.Kisah perjuangan Naga Seri Pahang dari Tasik Chini menentang Seri Kemboja di laut Siam.Sangat epik.Terbitan tahun 1988:)



Setakat ini saja untuk kali ini.Sebenarnya nak tulis pasal isu semasa.Tapi sumber dan idea kurang.So tulislah pasal novel yang pernah dimiliki.Tak Rugi cuba baca cadangan saya.Insya Allah.Anda akan berpuas hati.

SELAMAT MEMBACA.